Perempuan yang Menarik Diri

/ 21/02/14 /

Ia berjalan lurus. Tampak tak begitu mau tahu akan ada apa yang menanti di depan. atau apa yang akan menusuk di belakang.

Ia memandang kosong sekeliling. Tampak tak begitu peduli bahwa mungkin hanya ia yang bergerak sangat perlahan (atau malahan ia mematung, ia pun tidak tahu).

Pikirannya begitu bercabang, seakan-akan yang nyata adalah tidak dan yang dipikirannya lah yang hidup.

Ia merasa hilang, hilang yang tidak tahu apa yang hendak dicari.

Ia merasa ingin ditemukan, dan tidak ditemukan pada waktu yang sama.

Ia merasa sedang menunggu, tapi lupa apa atau siapa yang ia tunggu.

Kakinya melangkah, kadang tersandung dan tapaknya tidak mantap.

Mungkin belum memiliki ritme, pikirnya.

Ia merasa dirinya hilang menjauh, terbang mengawang.

Ia ingin ditahan menjejak tanah, tapi tak juga ingin jika tangannya bertaut dengan yang menetap.

Ia merasa dirinya masuk merasuk bersatu dengan tanah, lalu ke bawahnya lagi. Masuk lagi ke lapisan yang paling bawah. Sampai yang ada hanya dingin.

Bahkan ia tidak begitu yakin apakah itu dingin. Dan jika itu dingin, apakah itu yang hampa atau yang sejuk, atau yang mencekik.

Ia lalu kemudian menjelma menjadi tanaman hias di balkon suatu rumah. Bersanding dengan lap meja yang sedang dijemur.

Lalu kemudian ia menjelma menjadi seekor kucing di tengah jalan raya. Hendak menyebrang tetapi langkahnya tidak secepat roda-roda mobil yang melaju. Maka sang kucing diam dan memperhatikan.

Kemudian ia menjelma menjadi bangku di pinggiran Jalan Sudirman. Mendengarkan kasak-kusuk orang-orang yang duduk. Ada yang berbicara terlalu banyak, ada juga yang hanya diam.

Kemudian ia menjelma menjadi angin. debu. batang pohon. Berganti-ganti jelmaannya.

Lalu ia merasa dirinya hilang lagi.


Jauh dan semakin jauh.


Tak tahu apa yang dituju, ataukah ada yang menunggu.



 
Copyright © 2010 Sophisticated Mind, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger