Darah Biru
/
18/11/12 /
Aku ceplakan Bapak ku.
Tidak suka terikat. Tidak suka tinggal.
Aku serupa nenek ku.
Bertubuh meliuk montok. Mata lindri tulang pipi tinggi. Pertanda priyayi.
Aku serupa kakek ku.
Hidung tidak sempurna. Cuping telinga sebesar anak gajah.
Aku serupa. Berbagai yang menjadi satu.
Dari diriku, hanya pemikiran ini yang tidak serupa.
Aku ndableg, kata ibu ku.
Dan ibu ku bilang, ndableg ku ini tidak turunan nya maupun bapak.
Tapi biar bagaimana, aku tetap njawani. Darah biru.
Biar ndableg. Yang penting darahku masih sama biru sama Jawa.