Pemancing Pemancing

/ 09/03/11 /

Aku di sudut kanan, kamu di sudut kiri. Ratusan kali,
memancing bersama tak sekalipun menyadari.
Kita sama-sama tenggelam dalam umpan dan kail kedalam kolam.
Kita sama-sama menanti ikan yang tak setiap saat terpancing kail.

Kadang aku dapat, Kadang kamu yang dapat.
Tapi kita sama sama tidak tahu, karena memancing adalah ruang
pribadi yang tak dibagi.
Ikan hasil pancingan pun adalah harga diri, yang juga tak dibagi.

Kadang aku menoleh, ada kamu disitu. Menekur ke arah kailmu di dalam kolam,
sambil sesekali mengepulkan asap bulatan nikotin mu.
Kadang mungkin kamu menoleh, ataupun tidak sama sekali,
karena aku pun tak tau.

Suatu ketika, entah siapa yang bergerak, atau mungkin kita sama-sama,
mendekat.
tetap aku disini, kamu disitu. Tapi kali ini kita berbagi. Umpan apa yang kita jagokan,
kail apa yang kita gunakan, ikan apa yang kita harap dapatkan.

Kita sama-sama pemancing, satu sama lain tak dapat memenangi kecuali dengan ikan.
Ikan yang mungkin bagiku sangat menakjubkan, tapi bagimu tidak.
Dan mungkin ikan yang bagimu mengesankan, tapi bagiku tidak.

hari itu sepertinya kail kita saling mengait.
sepertinya aku dan kamu salah membaca percikan air.
kita tidak dapat ikan, tapi hari itu kita sama-sama menemukan,
kail kita saling berkait.

Besoknya lagi kamu tidak pergi memancing.
kemudian, esok setelah besok aku tidak pergi memancing.
entah kita marah karena dekat itu membuat kail kita berkait?
entah kaget karena ternyata selama ini kita tidak mengharapkan ikan?

Kemudian hari itu aku datang. Dan kamu sudah terlarut di pojokan pancingmu.
Maka aku mendekat, dan mencoba memancing di samping mu.
Kali ini kau dan aku dapat ikan. Ikan yang berbeda.
Yang masing masing kita senangi.

Tapi apa?
Ikan itu sepertinya bukan esensi dari memancing ku selama ini.
Apa kau juga begitu?
Apa yang membuatmu memancing? Ataukah kamu memang begitu menyenangi ikan?


Sore itu aku berkemas sedikit lamban. Kau sudah selesai dan bergegas.
Tapi sore itu kamu menunggu, dan kamu katakan
Ibumu adalah ahli memasak ikan yang terhebat.
dan aku katakan, aku tidak suka makan ikan.

lalu kamu bertanya, untuk apa aku memancing.
lalu aku menjawab, aku hanya suka memancing. Aku tak suka ikan.

lalu kamu bertanya lagi, untuk apa kuhabiskan waktuku di pemancingan.
lalu ku jawab, apakah pemancingan hanya untuk orang yang suka memancing dan menyukai ikan?
bagaimana jika memang aku hanya suka memancing dan duduk di pemancingan?
bagaimana?

lalu kamu diam. diam. dan kemudian berlalu.
lalu aku masih duduk di pinggir kolam, di sudut memancingmu.
menikmati picingan senja oranye yang menyiluetkan bentuk.

besok aku datang lagi ke pemancingan. kamu disitu. kamu disitu dan mendekati aku.
kamu tidak lagi bertanya.

Kamu tunjukkan kailmu, umpan mu, benang pancingmu.
tapi pertanyaanku cuma satu, apakah kamu begitu menyenangi ikan?

kamu jawab, tidak.
dan kamu diam.

dan aku tertawa.

dan aku tertawa.

lalu kecil kecil berujung pada kelumit senyuman.

kita adalah pemancing. Pemancing-pemancing yang menghabiskan waktu di pemancingan.
dan tidak begitu menyenangi ikan.

kita adalah pemancing. Pemancing-pemancing yang ternyata harus disadarkan bahwa kita tidak ingin benar
umpan kita dimakan oleh ikan.

hari ini kita sama sama dapat ikan. tapi tidak kita bawa pulang.
 
Copyright © 2010 Sophisticated Mind, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger