Belakangan ini saya jadi sangat kangen dengan aktivitas satu itu. Kangen terlihat dekil dan bau keringat, kangen nyanyi-nyanyi sambil jalan mendaki, kangen becandaannya, kangen menggigil kedinginan. Kangen semuanya. Banyak perubahan yang bisa kita rasakan setelah naik gunung, walau mungkin perubahan itu Cuma bertahan sangat sejenak setelah kita turun gunung.
Kenapa naik gunung? Itu adalah judul artikel yang dulu sempat saya baca di sebuah buku panduan naik gunung terbitan tahun 80’an yang dibuat oleh Norman Edwin. Dia adalah salah satu pendaki gunung yang terkenal di Indonesia, dia adalah legenda. Disitu Bung Norman memaparkan, kenapa banyak orangtua yang melarang anaknya untuk naik gunung, mengapa banyak orang menganggap naik gunung itu berbahaya. Apa sih yang sebegitunya dikhawatirkan? Padahal kan kecelakaan bisa terjadi dimana saja, tidak hanya di gunung. Artikel itu yang seharusnya dibaca oleh orang-orang tua, pacar-pacar, om dan tante, yang melarang orang yang mereka sayang (anak, pacar, keponakan) untuk pergi naik gunung.
Padahal bahaya yang mengancam di gunung sama beresikonya dengan bahaya yang mengancam di daratan. Kalau di gunung memungkinkan kita terluka dicakar binatang buas, apa bedanya dengan di lingkungan kita sendiri semisal di terminal atau stasiun kita kecopetan? Kalau di gunung kita kemungkinan akan tergelincir dan terkena gegar otak akibat terjatuh dan terantuk batu di tebing, apa bedanya dengan kemungkinan kita sedang berjalan kaki di trotoar dan tertabrak motor yang dikendarai ugal-ugalan? Atau, yang paling buruk, kalau di gunung mungkin kita terserang hypothermia, atau uap beracun, atau bahkan tersesat dan pulang tanpa nyawa, apa bedanya dengan ancaman seorang pembunuh berdarah dingin yang berkeliaran di sekitar kita, atau ancaman pemboman, yang memungkinkan kita juga kembali ke rumah tanpa nyawa?
Selain itu, naik gunung jauh lebih baik ketimbang kita terus-terusan menghabiskan waktu nongkrong di kafe menyesap kopi, apalagi ditemani batangan rokok. Udara gunung jauh lebih menyehatkan untuk paru-paru ketimbang kita menghirup udara sejuk buatan mesin bernama air conditioned. Pemandangan alam yang menghampar luas, jauh lebih menyenangkan mata ketimbang artis-artis ganteng dan seksi yang ada di film-film favorit di televisi. Satu hal lagi yang paling penting, naik gunung juga adalah ibadah sekaligus mensyukuri kebesaran Tuhan, ketimbang kita harus terus-terusan ribut mengenai Tuhan siapa yang paling Tuhan diantara Tuhan-Tuhan yang tersedia di agama-agama.
Pernahkah kalian merasakan segarnya air di danau Ranu Kumbolo? Dingin yang amat menusuk di Pelawangan Gunung Lawu? Segara Wedi yang begitu lapang di puncak Slamet? Mencium aroma Edelweiss yang begitu menyengat di hamparan Surya Kencana atau Mandala Wangi? Melihat puncak gunung menyerupai pudding di puncak gunung Sindoro? Melihat bulan yang sebegitu terang dan bulat menyerupai lampu jalan di setapak Sumbing? Saya pernah. Dan akan selalu menjadi ketagihan untuk melihat lebih banyak lagi keindahan-keindahan itu.
Hari ini teman baik saya tiba-tiba mengirimkan sms “Pengen naek gunung L” dan saya jadi tersadar bahwa sudah lama sekali tidak menjejakkan kaki-kaki kecil ini ke tanah basah pegunungan. Saya jadi tersadar, lama-kelamaan, saya jadi seperti orang-orang kebanyakan yang terjebak dalam kenyamanan sehari-hari, bersantai di kosan, menonton dvd, hang out menikmati kopi atau es krim.
Saya jadi makin teringat dengan cita-cita saya, mencapai puncak Rinjani. Saya tidak ingin berhenti mendaki sampai bisa mencapai Rinjani. Saya sudah menyaksikan teman-teman saya menikmati puncak-puncak gunung impian mereka di Gunung Slamet, ataupun Semeru. Saya ingin merasakan itu, merasakan bagaimana akhirnya setelah kamu mencapai puncak itu.
Banyak orang yang menyangka bahwa mendaki gunung adalah hal konyol, yang sia-sia. Yah, tidak sepenuhnya salah, dan sangat tidak sepenuhnya benar. Mendaki gunung adalah dimana kita menemukan diri kita sendiri melakukan berbagai hal konyol, tapi hal-hal itu sangatlah tidak sia-sia. Selalu bisa jadi cerita, dan jadi pembelajaran bagi diri sendiri. Bagi mereka yang masih memutuskan untuk tidak mau mendaki gunung seumur hidupnya, well, kalian punya hak untuk itu. Tapi, jika pada akhirnya kalian merubah pikiran untuk sekali saja merasakan nikmatnya alam pegunungan, mudah-mudahan kalian tidak menyesali hal itu dan menikmati pengalaman yang sama yang telah saya dapatkan.
Pesan moral yang bisa saya bagi dari mendaki gunung adalah bahwa, akhir dari sebuah pendakian bukanlah puncak gunung yang kamu raih. Akhir dari sebuah pendakian adalah, ketika kamu telah berjalan mendaki sampai ke puncaknya, turun kembali ke kaki gunung, kemudian pulang kembali ke rumah dengan selamat dengan hati yang sudah terisi penuh dengan berbagai pengalaman dan cerita. Terlihat seperti sesuatu yang sangat melelahkankah? Naik mencapai puncaknya, dan kemudian turun lagi? Tidak. Karena hal inilah yang terjadi di dalam kehidupan sesungguhnya. Tidak ada sesuatu pun yang dapat kamu miliki atau kamu nikmati selamanya, kecuali berbagai pengalaman dan cerita yang kita buat selama proses mencapai sesuatu itu.
Hhhh, jadi semakin ingin naik gunung. Hopefully, saya bisa naik gunung lagi dalam waktu dekat ini.
Cheers!