Rintik Rintik
/
11/08/16 /
Dibilangnya: Hujan adalah titisan kerinduan.
Tak kumengerti maksudnya. Tak kupahami artinya.
Barulah kutahu setelah tak lagi bisa kubertanya.
Aku merindumu hampir setiap saat.
Seringnya tak tertahankan rasa ini hingga sesak mencekik kerongkongan.
Sampai ketika itu ku terduduk diam di tepi pantai berpasir hitam.
Tempat dimana kau gendong aku di atas pundakmu.
Jatuh satu persatu tanpa mampu kukendalikan.
Berawal dari titik-titik menjelma menjadi aliran yang deras.
Hampir hilang nafasku.
Kularungkan titik-titik air mataku ke pantai menuju samudera.
Dan kemudian matahari membawanya ke langit yang menjelma awan.
Awan yang ditiup sayup angin terbawalah ia kemana....
terbawalah ia sampai habis dirinya, dan turunlah ia ke bumi dalam jelmaan rintik rintik hujan.
Membekas di kaca jendela depan rumahku.
Membasahi tanah menguarkan bau yang khas.
yang menurutku agaknya beraroma sendu.
Agaknya aku mengenali.....
aroma sendu itu adalah rasa rinduku yang dulu kutitipkan pada laut.
Kembali ia menyapaku dalam rintik-rintik yang menenangkan jiwa.
Kembali aku mengingat betapa pernah kau katakan: Beruntunglah kita merasakan hujan. Beruntunglah rindu itu akhirnya sampai ke tujuan.