Menunggu Rabu dan Kamu

/ 09/06/15 /

Tanganku sudah keringat dingin dari malam ini. Detak jantung sudah tidak bisa diatur dan tidak karuan. Serangan kupu-kupu menggelitik perutku. Aku ingin muntah. Rasanya sudah seperti tidak bisa berkonsentrasi atas apapun yang ada disekelilingku. Besok hari rabu. Besok kita akan bertemu. tepatnya, aku memaksa kita supaya bisa bertemu.

Sudah berhari-hari kita menjalani hubungan yang cukup intim. kamu membawa hatiku kadang jauh melayang ke awang awang sana. atau sering juga kamu membiarkannya terjun bebas jatuh ke dasar relungnya.

Aku mengingat setiap detil kebersamaan kita dengan sangat jelas. Jika suatu saat setelah rabu ini kita bertemu lagi, dan aku bilang aku tidak ingat apapun, katakan dalam hatimu kalau aku pembohong. karena itu semua seperti sudah adanya dibuat oleh yang kuasa untuk terus membebat jejaring neuron yang ada di otakku.

Kalau kamu adalah kopi, pasti kamu espresso. Karena kamu meninggalkan bekas pahit kuat yang dicecap oleh lidah.


(Sajak ini ditulis sekitar 2 tahun yang lalu. Tokoh dalam sajak ini masih menjadi satu dari sekian inspirasi saya menulis dalam sajak-sajak pada tahun-tahun berikutnya)
 
Copyright © 2010 Sophisticated Mind, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger