Jarum jamnya terus berjalan. Mataku tidak berhenti mengawasi, sayu. Aku lelah terus-menerus menjadi wasit bagi waktu untuk tetap berjalan dengan satuan detik yang sama, yang terdiri dari partikel-partikel harapan dengan kecepatan 3,4 giga hertz. Bagaimana menghitungnya? Ya, entah bagaimana tapi itu sangat cepat. dan banyak. dan penting -bagiku.
Aku ingin memastikan bahwa detakan hatiku tidak sedetik pun terlewat memberikan pukulan halus-halus di dadaku. Ritme yang tidak terlambat. Konstan. Stabil.
Aku terlalu rasional untuk mengaplikasikan hitungan ketukan dalam membaca not yang tidak hanya satu, tapi bisa menjadi 3/4, 3/3, 2/4 dan per berapapun. Ketukan itu tidak stabil, naik turun namun teratur. Aku merasa terlalu naif jika setiap saat merasakan desiran halus dan mengartikannya sebagai irama yang harmonis.
Perlu waktu yang cukup untuk menjadikan dingin sebagai kebiasaan. Perlu berbagai cara untuk menginternalisasi sendiri sebagai prima norma. Perlu keberanian yang cukup kuat untuk menggandeng mandiri di tangan kiri.
Cuma ini semua terasa beda. Cuma ini semua membuat aku berani bertaruh.
dengan diriku.
Mungkin sebenarnya aku menikmati dan mengakui bahwa adalah irama disitu. Tapi aku terlalu benci mengakui bahwa semuanya harus dimulai dari awal lagi.
Aku tahu kelemahanku adalah dalam mengakhiri. Maka sebenarnya memulai bukanlah tantangan sesungguhnya.
Cuma, ini tanggung.
Cuma, ini pilu kalau terus ditahan.
Tapi aku rasa aku masih harus mengawasi waktu. Biar membiru dulu. Biar mengilu dulu.