Lalu terucaplah kata Kindi. Awalnya saya nggak tau arti apapun dari kata itu. Tadinya sempat mau menggunakan akhiran huruf akhir "Y" jadi Kindy. Mungkin terlihat lebih "dinamis", tapi saya takut nanti orang salah baca namanya jadi "kaein-di". Jadi saya putuskan tetap menggunakan huruf "i" untuk akhiran. Namanya Kindi. Dibaca pun sama, Kin-di. Sederhana, dan tidak mengurangi esensi bunyi yang dihasilkan.
Saya teringat, sepertinya sangat familiar dengan nama Kindi. Tapi dimana?
Akhirnya, didorong rasa penasaran, saya mengetikkan kata "Kindi" ke dalam searchbox di Google. Dan, Yak! Benar dugaan saya! Keluarlah berbagai temuan tentang Al-Kindi , Filsuf pertama yang pernah ada di Islam. Alhamdulillah, namanya masih masuk dalam garis keislaman. Dan ditambah lagi, adalah filsuf!
Maka kemudian saya mulai menyusun. Kindi saya artikan sebagai "kebijaksanaan", karena berasal dari nama seorang filsuf, yah walaupun filsufnya itu laki-laki. Kemudian, satu kata nama Kindi saja terdengar kurang mumpuni, kurang elegan. Saya tambahkan kata Aluna. Dari kata "alunan". Saya suka menyanyi, jadi saya suka sesuatu yang mengalun.
Kindi Aluna. Maka secara batasan terminologi nama yang bisa saya berikan sebagai calon ibu kepada bakal anak perempuan saya kelak, adalah, Kebijaksanaan yang Mengalun. Perfecto!
Karena memberikan nama adalah memang hak prerogatif dari orang tua, dan orang tua terdiri dari ibu dan bapak. maka saya mempersilahkan calon bapak untuk memberikan nama terakhir di suku kata terakhir. Kindi Aluna ..... , masih ada satu suku kata nama terakhir yang menunggu di titik-titik itu.